Book Editor:
Wening Udasmoro
Arifah Rahmawati
Persoalan homoseksualitas bukan hal baru dalam konteks Indonesia, baik dalam karya sastra maupun dalam konteks sosial. Karya-karya mengenai homoseksualitas telah ada misalnya pada awal abad ke-19 dalam Serat Centhini. Transgenderisme juga telah banyak dibaca dari Kitab Mahabharata. Transgenderisme bahkan merupakan suatu hal yang biasa dalam pengalaman masyarakat di Indonesia. Praktik ini menjadi seakan asing karena menguatnya pemahaman Abrahamic Religions di era Reformasi. Pemosisian homoseksual dan transgender yang dianggap “berdosa” menguak dengan sangat tajam dalam wacana keseharian.
Lain halnya konteks sosial yang semakin memperketat wacana mereka terhadap LGBTQ (sebagai yang tidak bermoral), dalam sastra wacana tentang hal ini justru semakin menguat hadir sejak masa awal Reformasi. Banyak karya sastra mengenai kelompok-kelompok ini yang ditulis oleh para pengarang besar, misalnya oleh Ayu Utami pada tahun 1998 (menjelang runtuhnya pemerintahan Suharto). Para pengarang tidak hanya berbicara mengenai relasi laki-laki dan perempuan tetapi pada diversitas gender dengan nilai-nilai maskulinitas atau femininitas yang menguasai wacana-wacana sastra pasca reformasi. Aspek-aspek maskulinitas mulai banyak ditulis dalam konteks sastra di satu sisi dan di sisi lain analisis terhadap aspek inipun semakin menggejala. Para peneliti yang meneliti pun sangat bervariasi, mulai dari mahasiswa S1, S2 maupun S3. Kritik-kritik terhadap kekalnya gender order mulai dipertanyakan dan digedor-gedor sebagai pemikiran akademik.
Red: Rofiatul Azizah