Book Editor:
Wening Udasmoro
Arifah Rahmawati
Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada aspek materiil seperti ekonomi dan politik, tetapi juga mengguncang dimensi kemanusiaan yang lebih luas. Krisis ini menimbulkan resesi global yang signifikan serta memicu ketegangan politik, sekaligus mengubah pola relasi sosial dan bahkan transformasi bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Perubahan tersebut berkontribusi pada eskalasi kekerasan yang terjadi secara fisik, psikologis, verbal, dan simbolis. Runtuhnya sendi ekonomi, rapuhnya relasi sosial akibat perubahan pola interaksi, serta tekanan psikologis dalam menghadapi situasi yang serba tidak pasti menjadi faktor-faktor yang memperkuat kerentanan individu dan kelompok. Dalam konteks krisis, kekerasan hampir selalu beririsan dengan aspek gender, di mana praktik hegemonic dan toxic masculinities kerap beroperasi melalui sistem sosial, meskipun tidak semua laki-laki bersifat violent dan maskulinitas sendiri tidak selalu identik dengan kekerasan. Berbeda dengan krisis konflik yang cenderung menonjolkan kekerasan fisik, pandemi justru mengakselerasi kekerasan verbal dan psikologis, terutama dalam ruang-ruang yang familiar seperti keluarga dan lingkungan terdekat.
Kekerasan di masa pandemi membentuk matriks yang kompleks dan saling beririsan, mencakup relasi antaranggota keluarga maupun masyarakat, dimensi kategori sosial seperti usia dan gender, serta pola kekerasan yang bersifat sistematis maupun temporer. Ketiga matriks tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berinterseksi dalam membentuk gambaran kekerasan yang laten namun terus direproduksi, dengan pandemi sebagai faktor pemicu yang memperkuatnya. Buku ini memetakan kompleksitas tersebut ke dalam tiga bagian besar: pertama, membahas kekerasan dan pandemi dalam lintas ruang fisikal, virtual, dan simbolik; kedua, mengkaji eskalasi kekerasan dalam lingkup keluarga, termasuk isu unpaid care works, KDRT, kekerasan terhadap lansia, dan anak; serta ketiga, menyoroti persoalan sosial yang lebih luas seperti peminggiran kelompok tertentu, perlindungan sosial melalui penyaluran BLT-DD kepada perempuan, dan praktik kedaulatan pangan oleh perempuan di berbagai wilayah Indonesia dalam menghadapi krisis.
Red: Rofiatul Azizah