• UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan Pusat
  • Research
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian
  • Home
  • Tentang Kami
    • sejarah
    • Visi dan Misi
    • Profil Pengurus
      • Plt Kepala PSKP
      • Sekretaris
    • Profil Tim Ahli
    • Profil Peneliti
    • Profil Karyawan
    • Struktur Organisasi
    • Patner
  • Penelitian
  • Kegiatan
    • Workshop
    • Konferensi
    • Pelatihan
    • Diskusi
    • Advokasi
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Monograf
    • Buletin
    • Buku Saku
    • Newslatter
    • Artikel
  • Ruang Pustaka
  • Beranda
  • Opini
  • page. 3
Arsip:

Opini

Pengusiran Gepeng dan Ledakan Konflik

Opini Friday, 17 March 2017

Rabu, 03 Oktober 2007
Harian Koran Tempo 3 Oktober 2007 memuat artikel Moch. Faried Cahyono mengenai masalah penggusuran orang miskin dan ledakan konflik. Perda pengusiran gepeng yang dikeluarkan Pemda DKI Jakarta dapat memicu ledakan konflik. Sebuah ledakan konflik menurut Cahyono dapat berupa suatu kerusuhan. Kerusuhan dapat terjadi karena orang papa yang marah terprovokasi.

Cahyono mencontohkan kota Surakarta, yang telah mengalami 11 kali kerusuhan diera moderen ini. Kerusuhan terakhir di kota ini adalah pada bulan Mei 1998, mengiringi kejatuhan Suharto dengan intensitas jauh lebih besar dari kerusuhan yang terjadi di Jakarta. Secara korban jiwa jauh mungkin lebih sedikit dari kerusuhan Mei 1998 di Jakarta, namun kerugian ekonomi amat besar. Belum lagi dampak lain yang tidak bersifat fisik: trauma psikologis, hilangnya rasa aman, dan runtuhnya kepercayaan kepada negara dan sesama warga negara.

Ada dua soal pokok dalam kerusuhan Mei 1998 di Surakarta, pertama adalah imbas dari konflik di pemerintah pusat yang tidak terkelola dengan baik. Kedua adalah soal rakyat yang kesulitan ekonomi.

Jika para gepeng diusir dari Jakarta, tentu mereka akan mengalir ke daerah-daerah. Sementara perputaran ekonomi di Jakarta jauh lebih besar dari di daerah, ini membuat mereka semakin miskin. Apalagi jika Pemda di daerah melakukan perda yang sama dengan DKI Jakarta terhadap para gepeng.

Untuk itu Cahyono memberikan hal-hal yang layak diperhatikan dalam pengentasan kemiskinan bukan pengusiran.[sy]

Baca/Download Artikel Selengkapnya
Baca (halaman html): Koran Tempo Online
Download (pdf): MFC_Pengusiran Gepeng dan Ledakan Konflik MFC_Pengusiran Gepeng dan Ledakan Konflik (192.53 Kb)

Mengembalikan “Teroris” ke Masyarakat

Opini Friday, 17 March 2017

Sabtu, 14 April 2007

Dalam rubrik opini Koran Tempo edisi 14 April 2007, Moch. Faried Cahyono menuliskan bahwa masih banyak masyarakat yang tidak paham mengapa orang dapat menjadi teroris dan mengapa jumlahnya sedemikian banyak. Padahal pemahaman bagaimana munculnya teroris amat penting untuk pencegahan tindak terorisme, dan lebih jauh membantu mereka kembali ke masyarakat normal.

Cahyono menarik akar kemunculan teroris dari perang dingin antara blok timur dan blok barat. Juga pada kasus-kasus kerusuhan yang terjadi di negeri ini. Mereka terlibat dalam gesekan-gesekan tersebut, sebagai pejuang (combatant) dari pihak-pihak yang bertiakai tersebut. Begitu ‘perang’ usai mereka kembali ke Indonesia dan daerahnya sebagai mantan pejuang (ex combatant). Disini Cahyono menjelaskannya dengan panjang lebar, dari berbagai kasus perang dingin dan kerusuhan di Indonesia.

Mengembalikan mereka ke masyarakat, tulis Cahyono, adalah cara terbaik untuk mewujudkan situasi normal supaya mereka bisa hidup normal. Dan ini merupakan tanggung jawab banyak pihak. Selama ini data mengenai mereka hanya dimiliki aparat keamanan (untuk tindakan represif), seharusnya untuk dapat mengembalikan mereka ke hidup normal data ini tidak hanya dimiki aparat keamanan.

Itu adalah langkah pertama. Kemudian Cahyono memberikan usulan bagaimana langkah-langkah selajutnya.[sy]

Baca/Download Artikel Selengkapnya
Baca (halaman html): Koran Tempo Online
Download: MFC_Mengembalikan Teroris ke Masyarakat MFC_Mengembalikan Teroris ke Masyarakat (179.32 Kb)

Membenahi Kampus “Teror” IPDN

Opini Friday, 17 March 2017

Minggu, 01 April 2007

Keberadaan IPDN masih tetap dibutuhkan untuk menyediakan lulusan siap pakai untuk jajaran birokrasi Pemda, tulis Moch. Faried Cahyono. Dan jika dibubarkan belum ada penggantinya. Walaupun ada banyak kematian di kampus tersebut. Lalu apa saja yang perlu diperbaiki dan bagaimana memperbaikinya?

Cahyono menyoroti perbaikan kurikulum. Untuk mengulas kurikulum, Cahyono merututnya dari awal didirikannya IPDN dalam kerangka otoriterianisme Orde Baru, dengan terjadinya reformasi hal ini tentu saja harus dirubah. Dari buku teks yang diajarkan IPDN, tampaknya hal ini sudah dilakukan.

Namun tradisi kekerasan yang inheren dalam metode pengajaran/pendidikan IPDN adalah soal yang meyakinkan kita semua, bahwa IPDN sesungguhnya tidak berubah dari masa sebelumnya, sebagai pendidikan jaman negara otoriter Orde Baru. Disini Cahyono mengulas tradisi kekerasan di IPDN.

Selanjutnya Cahyono mengulas mengenai sarana/prasarana fisik, dan sumber daya pendidik IPDN.[sy]

Download Artikel Selengkapnya
pdf format: MFC_Membenahi Kampus  MFC_Membenahi Kampus “Teror” IPDN (190.49 Kb)

 

Antara Militer dan Milisi: Aparat Keamanan dalam Konflik Komunal di Ambon

Opini Friday, 17 March 2017

Senin, 20 November 2006

Artikel ini ditulis M. Najib Azca, diterbitkan dalam edisi khusus Violence in Southeast Asia dari Asian journal of Social Science Volume 34, No. 3 , 2006.

Dalam tulisan ini, Azca menyajikan dan membahas peran aparat keamanan dalam konflik komunal di Ambon, Indonesia. Banyak sarjana dan pemerhati sosial berpendapat bahwa aparat keamanan memainkan peran dalam memperpanjang konflik Ambon, namun kritik itu cenderung melebih-lebihkan dan melihat aparat keamanan sebagai satu aktor yang homogen.

Berdasarkan penelitian dan kerja lapangan yang ekstensif, makalah ini berpendapat bahwa dinamika peran aparat keamanan dalam konflik di Ambon berkembang sesuai dengan dinamika konflik itu sendiri dan dipengaruhi oleh faktor lokal dan nasional, dan aktor yang terkait. Tulisan ini juga mengamati masalah hubungan sipil-militer pada masa setelah runtuhnya rezim otoriter, dengan perhatian khusus pada dampaknya dalam reformasi sektor keamanan.

Baca Opini (English)
from Bril website: In Between Military and Militia

Security Sector Reform, Democratic Transition, and Social Violence: The Case of Ambon, Indonesia

Opini Friday, 17 March 2017

Senin, 25 Oktober 2004

The paper published in Dialogue Series No. 2 on Security Sector Reform (SSR) of Berghof Handbook for Conflict Transformation in 2004. The book which edited by McCartney et al consists of several papers by leading scholars on security and conflict transformation in response to a lead-paper written by Prof. Dr. Herbert Wulf, the former director of the Bonn International Center for Conversion (BICC).

The Berghof Research Center for Conflict Transformation is a comprehensive and cumulative website resource that provides continually updated cutting-edge knowledge, experience and lessons learned for those working in the field of transforming violent ethnopolitical conflict.

In the paper M. Najib Azca discuss the linkage and the interplay between communal violence and security sector reform that has been taking place during Indonesian transition period. He, furthermore, contends that theeruption of communal violence in Ambon (and other places of Indonesia) can be seen as a symptom of the porr performance of the security forces and simultaneously has brought some handicaps for the achievement of further step of security sector reform.[nazca]

Download/Open Article
from Berghof website: AzcaPDF diaglogue2_azca

Salah Pikir Soal Keamanan

Opini Friday, 17 March 2017

Minggu, 30 Mei 2004

Arifah Rahmawati dan Faried Cahyono menganalisis mengapa penyelesaian masalah di daerah pascakonflik tidak juga tuntas. Seperti kejadian 25 April 2004 lalu, kondisi kota Ambon yang dalam beberapa tahun telah ‘aman dan terkendali’ tiba-tiba rusuh dan memakan puluhan korban jiwa.

Menurut kedua penulis, hal ini terjadi karena kesalahan penanganan keamanan sejak dari cara berpikir hingga pilihan kebijakan! Aparat keamanan biasanya mengatakan situasi “aman dan terkendali”. Artinya, jika keadaan diduga akan meledak polisi dan tentara siap berjaga-jaga. Sementara sebagian pejabat pemerintahan sipil mengatakan, daerahnya aman karena tidak ada lagi kerusuhan atau perang antar warga dengan korban mati. Jika masih ada bom sesekali, dianggap biasa. Citra aman seperti itu lalu jadi “kesepakatan” umum.

Persoalan keamanan sudah menjadi monopoli aparat pemerintah, militer, dan polisi. Dan orang sipil berpikir keamanan bukan tanggungjawabnya. Ini jelas salah, karena semua elemen ini harus bekerja sama soal keamanan. Walaupun penanggungjwabnya, menurut undang-undang, adalah polisi.

Akhirnya masyarakat tidak memiliki data dan indikator soal keamanan, juga tidak punya sumber daya dan keahlian. Tentu saja data dan keahlian ini tidak sama dengan yang dikelola oleh aparat. Karena itu sebuah masalah kecil dimasyarakat bisa menyebabkan kerusuhan yang tidak diduga, dan otomatis tak terhindarkan.

Kedua penulis kemudian menunjukkan dan menganalisa contoh-contoh penanganan konflik dan pascakonflik yang dianggap berhasil.[sy]

Download Artikel Selengkapnya
pdf format: AR+MFC_Salah Pikir Soal Keamanan AR+MFC_Salah Pikir Soal Keamanan (198.43 Kb)

Membaca Konflik (Baru) Ambon

Opini Friday, 17 March 2017

Minggu, 09 Mei 2004

Dalam Koran Tempo 9 Mei 2004, M. Najib Azca mempublikasikan analisisnya mengenai konflik baru di Ambon 25 April lalu. Dimana bertepata dengan ulang tahun RMS (Republik Maluku Selatan), rangkaian konflik komunal kembali terjadi. Padahal sejak akhir tahun 2001 hampir tidak ada lagi konflik besar, semisal peledakan bom dan ranjau, penyerangan mendadak terhadap suatu komunitas, serta penembakan misterius oleh penembak gelap.

Kondisi keamanan membaik secara berarti sejak pertengahan 2002 setelah investigasi polisi berhasil menyingkap keterkaitan sekelompok anggota geng Coker pimpinan Berty Loupatty dengan sejumlah aparat keamanan dari Kopassus (Tempo edisi 13 Januari 2003). Diikuti pemilihan gubernur dan Pemilu 2004 yang berlangsung aman.

Namun peristiwa 25 April lalu mengindikasikan masih terdapat luka sosial sedemikian dalam sehingga sehingga menghasilkan damai yang rapuh dan getas. Azca menilai ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini.

Faktor-faktor ini adalah terjadinya segregasi komunitas akibat konflik komunal yang panjang, tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, masih banyaknya senjata yang secara ilegal dimiliki masyarakat, dan adanya kelompok ‘garis keras’. Dalam analisisnya, Azca menjabarkan faktor-faktor ini secara mendalam hingga membuat kondisi damai menjadi getas.[sy]

Baca/Download Artikel Seutuhnya
Baca (halaman html): Koran Tempo Online
Download (pdf): Azca_Membaca Konflik (Baru) Ambon Azca_Membaca Konflik (Baru) Ambon (151.24 Kb)

Konflik Horizontal Tahun 2003

Opini Friday, 17 March 2017

Selasa, 30 Desember 2003

Analisis Samsu Rizal Panggabean terhadap berbagai konflik yang telah terjadi tahun 2003 menyimpulkan bahwa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya sejak 1999, tahun 2003 ini konflik horizontal cenderung menurun. Baik dari segi intensitas maupun jumlah korban.

Selain itu bentuk-bentuk konfliknya tidak ada yang baru. Seperti kekerasan antar desa, kekerasan warga pendatang dengan warga setempat, benturan antar pendukung partai. Bentuk-bentuk ini memberikan ciri konflik horizontal yang perlu diperhatikan. Pertama menyangkut unsur-unsur identitas yang melandasi pembentukan dan, kedua, pengerahan kelompok-kelompok masyarakat yang berbenturan.

Selanjutnya Panggabean, dalam analisis yang dimuat Koran Tempo 30 Desember 2003 ini, menganalisa ciri-ciri ini dalam berbagai konflik yang terjadi. Seperti bagaimana teritori kecil dapat menjadi basis pembentukan dan pengerahan kelompok-kelompok bertikai, jarang diperhatikannya integrasi sosial antara pendatang dan penduduk asli, dan berbagai hal lain.[sy]

Baca/Download Artikel Selengkapnya
Baca (halaman html): Koran Tempo Online
Download (pdf): SRP_Konflik Horizintal Tahun 2003 SRP_Konflik Horizintal Tahun 2003 (176.62 Kb)

Marwah KPK

Opini Wednesday, 15 March 2017

Pembajakan dan Keamanan Laut

Opini Tuesday, 28 February 2017

1234

Recent Posts

  • Buku : Dua Menyemai Damai : Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi
  • Buku : Pandemi, Konflik, Transformasi : Tantangan Demokrasi dan Inklusi Sosial
  • Buku : Agensi Perempuan Dalam Lingkaran Ekstremisme Kekerasan : Narasi dari Poso, Bima, Lamongan dan Deli Serdang
  • Serial Webinar Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP), UGM
  • [PEACE GOERS FESTIVAL-online] “Damai Itu Keren”
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEAMANAN DAN PERDAMAIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Sekip K-9 Yogyakarta 55281
email: ps.kp@ugm.ac.id
Telp./Fax : (0274) 520733

© 2017 CSPS Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY