• UGM
  • IT Center
  • Perpustakaan Pusat
  • Research
Universitas Gadjah Mada Universitas Gadjah Mada
Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian
  • Home
  • Tentang Kami
    • sejarah
    • Visi dan Misi
    • Profil Pengurus
      • Plt Kepala PSKP
      • Sekretaris
    • Profil Tim Ahli
    • Profil Peneliti
    • Profil Karyawan
    • Struktur Organisasi
    • Patner
  • Penelitian
  • Kegiatan
    • Workshop
    • Konferensi
    • Pelatihan
    • Diskusi
    • Advokasi
  • Publikasi
    • Buku
    • Jurnal
    • Monograf
    • Buletin
    • Buku Saku
    • Newslatter
    • Artikel
  • Ruang Pustaka
  • Beranda
  • Pos oleh
  • page. 5
Pos oleh :

Admin Jr

Membenahi Kampus “Teror” IPDN

Opini Friday, 17 March 2017

Minggu, 01 April 2007

Keberadaan IPDN masih tetap dibutuhkan untuk menyediakan lulusan siap pakai untuk jajaran birokrasi Pemda, tulis Moch. Faried Cahyono. Dan jika dibubarkan belum ada penggantinya. Walaupun ada banyak kematian di kampus tersebut. Lalu apa saja yang perlu diperbaiki dan bagaimana memperbaikinya?

Cahyono menyoroti perbaikan kurikulum. Untuk mengulas kurikulum, Cahyono merututnya dari awal didirikannya IPDN dalam kerangka otoriterianisme Orde Baru, dengan terjadinya reformasi hal ini tentu saja harus dirubah. Dari buku teks yang diajarkan IPDN, tampaknya hal ini sudah dilakukan.

Namun tradisi kekerasan yang inheren dalam metode pengajaran/pendidikan IPDN adalah soal yang meyakinkan kita semua, bahwa IPDN sesungguhnya tidak berubah dari masa sebelumnya, sebagai pendidikan jaman negara otoriter Orde Baru. Disini Cahyono mengulas tradisi kekerasan di IPDN.

Selanjutnya Cahyono mengulas mengenai sarana/prasarana fisik, dan sumber daya pendidik IPDN.[sy]

Download Artikel Selengkapnya
pdf format: MFC_Membenahi Kampus  MFC_Membenahi Kampus “Teror” IPDN (190.49 Kb)

 

Antara Militer dan Milisi: Aparat Keamanan dalam Konflik Komunal di Ambon

Opini Friday, 17 March 2017

Senin, 20 November 2006

Artikel ini ditulis M. Najib Azca, diterbitkan dalam edisi khusus Violence in Southeast Asia dari Asian journal of Social Science Volume 34, No. 3 , 2006.

Dalam tulisan ini, Azca menyajikan dan membahas peran aparat keamanan dalam konflik komunal di Ambon, Indonesia. Banyak sarjana dan pemerhati sosial berpendapat bahwa aparat keamanan memainkan peran dalam memperpanjang konflik Ambon, namun kritik itu cenderung melebih-lebihkan dan melihat aparat keamanan sebagai satu aktor yang homogen.

Berdasarkan penelitian dan kerja lapangan yang ekstensif, makalah ini berpendapat bahwa dinamika peran aparat keamanan dalam konflik di Ambon berkembang sesuai dengan dinamika konflik itu sendiri dan dipengaruhi oleh faktor lokal dan nasional, dan aktor yang terkait. Tulisan ini juga mengamati masalah hubungan sipil-militer pada masa setelah runtuhnya rezim otoriter, dengan perhatian khusus pada dampaknya dalam reformasi sektor keamanan.

Baca Opini (English)
from Bril website: In Between Military and Militia

Security Sector Reform, Democratic Transition, and Social Violence: The Case of Ambon, Indonesia

Opini Friday, 17 March 2017

Senin, 25 Oktober 2004

The paper published in Dialogue Series No. 2 on Security Sector Reform (SSR) of Berghof Handbook for Conflict Transformation in 2004. The book which edited by McCartney et al consists of several papers by leading scholars on security and conflict transformation in response to a lead-paper written by Prof. Dr. Herbert Wulf, the former director of the Bonn International Center for Conversion (BICC).

The Berghof Research Center for Conflict Transformation is a comprehensive and cumulative website resource that provides continually updated cutting-edge knowledge, experience and lessons learned for those working in the field of transforming violent ethnopolitical conflict.

In the paper M. Najib Azca discuss the linkage and the interplay between communal violence and security sector reform that has been taking place during Indonesian transition period. He, furthermore, contends that theeruption of communal violence in Ambon (and other places of Indonesia) can be seen as a symptom of the porr performance of the security forces and simultaneously has brought some handicaps for the achievement of further step of security sector reform.[nazca]

Download/Open Article
from Berghof website: AzcaPDF diaglogue2_azca

Salah Pikir Soal Keamanan

Opini Friday, 17 March 2017

Minggu, 30 Mei 2004

Arifah Rahmawati dan Faried Cahyono menganalisis mengapa penyelesaian masalah di daerah pascakonflik tidak juga tuntas. Seperti kejadian 25 April 2004 lalu, kondisi kota Ambon yang dalam beberapa tahun telah ‘aman dan terkendali’ tiba-tiba rusuh dan memakan puluhan korban jiwa.

Menurut kedua penulis, hal ini terjadi karena kesalahan penanganan keamanan sejak dari cara berpikir hingga pilihan kebijakan! Aparat keamanan biasanya mengatakan situasi “aman dan terkendali”. Artinya, jika keadaan diduga akan meledak polisi dan tentara siap berjaga-jaga. Sementara sebagian pejabat pemerintahan sipil mengatakan, daerahnya aman karena tidak ada lagi kerusuhan atau perang antar warga dengan korban mati. Jika masih ada bom sesekali, dianggap biasa. Citra aman seperti itu lalu jadi “kesepakatan” umum.

Persoalan keamanan sudah menjadi monopoli aparat pemerintah, militer, dan polisi. Dan orang sipil berpikir keamanan bukan tanggungjawabnya. Ini jelas salah, karena semua elemen ini harus bekerja sama soal keamanan. Walaupun penanggungjwabnya, menurut undang-undang, adalah polisi.

Akhirnya masyarakat tidak memiliki data dan indikator soal keamanan, juga tidak punya sumber daya dan keahlian. Tentu saja data dan keahlian ini tidak sama dengan yang dikelola oleh aparat. Karena itu sebuah masalah kecil dimasyarakat bisa menyebabkan kerusuhan yang tidak diduga, dan otomatis tak terhindarkan.

Kedua penulis kemudian menunjukkan dan menganalisa contoh-contoh penanganan konflik dan pascakonflik yang dianggap berhasil.[sy]

Download Artikel Selengkapnya
pdf format: AR+MFC_Salah Pikir Soal Keamanan AR+MFC_Salah Pikir Soal Keamanan (198.43 Kb)

Membaca Konflik (Baru) Ambon

Opini Friday, 17 March 2017

Minggu, 09 Mei 2004

Dalam Koran Tempo 9 Mei 2004, M. Najib Azca mempublikasikan analisisnya mengenai konflik baru di Ambon 25 April lalu. Dimana bertepata dengan ulang tahun RMS (Republik Maluku Selatan), rangkaian konflik komunal kembali terjadi. Padahal sejak akhir tahun 2001 hampir tidak ada lagi konflik besar, semisal peledakan bom dan ranjau, penyerangan mendadak terhadap suatu komunitas, serta penembakan misterius oleh penembak gelap.

Kondisi keamanan membaik secara berarti sejak pertengahan 2002 setelah investigasi polisi berhasil menyingkap keterkaitan sekelompok anggota geng Coker pimpinan Berty Loupatty dengan sejumlah aparat keamanan dari Kopassus (Tempo edisi 13 Januari 2003). Diikuti pemilihan gubernur dan Pemilu 2004 yang berlangsung aman.

Namun peristiwa 25 April lalu mengindikasikan masih terdapat luka sosial sedemikian dalam sehingga sehingga menghasilkan damai yang rapuh dan getas. Azca menilai ada sejumlah faktor yang menyebabkan hal ini.

Faktor-faktor ini adalah terjadinya segregasi komunitas akibat konflik komunal yang panjang, tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, masih banyaknya senjata yang secara ilegal dimiliki masyarakat, dan adanya kelompok ‘garis keras’. Dalam analisisnya, Azca menjabarkan faktor-faktor ini secara mendalam hingga membuat kondisi damai menjadi getas.[sy]

Baca/Download Artikel Seutuhnya
Baca (halaman html): Koran Tempo Online
Download (pdf): Azca_Membaca Konflik (Baru) Ambon Azca_Membaca Konflik (Baru) Ambon (151.24 Kb)

Konflik Horizontal Tahun 2003

Opini Friday, 17 March 2017

Selasa, 30 Desember 2003

Analisis Samsu Rizal Panggabean terhadap berbagai konflik yang telah terjadi tahun 2003 menyimpulkan bahwa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya sejak 1999, tahun 2003 ini konflik horizontal cenderung menurun. Baik dari segi intensitas maupun jumlah korban.

Selain itu bentuk-bentuk konfliknya tidak ada yang baru. Seperti kekerasan antar desa, kekerasan warga pendatang dengan warga setempat, benturan antar pendukung partai. Bentuk-bentuk ini memberikan ciri konflik horizontal yang perlu diperhatikan. Pertama menyangkut unsur-unsur identitas yang melandasi pembentukan dan, kedua, pengerahan kelompok-kelompok masyarakat yang berbenturan.

Selanjutnya Panggabean, dalam analisis yang dimuat Koran Tempo 30 Desember 2003 ini, menganalisa ciri-ciri ini dalam berbagai konflik yang terjadi. Seperti bagaimana teritori kecil dapat menjadi basis pembentukan dan pengerahan kelompok-kelompok bertikai, jarang diperhatikannya integrasi sosial antara pendatang dan penduduk asli, dan berbagai hal lain.[sy]

Baca/Download Artikel Selengkapnya
Baca (halaman html): Koran Tempo Online
Download (pdf): SRP_Konflik Horizintal Tahun 2003 SRP_Konflik Horizintal Tahun 2003 (176.62 Kb)

PELA Newsletter Vol. 3 No. 1

NewslatterPublikasi Friday, 17 March 2017

       

Edisi Vol. 3 No. 1 – September 2005
Pendidikan untuk Perdamaian
Kontributor
dan Editor
Lambang Trijono , Samsu Rizal Panggabean, M. Najib Azca, Arifah Rahmawati, Muhadi Sugiono, Tri Susdinarjanti, Diah Kusumaningrum, Dody Wibowo, Nurul Aini, Moch. Faried Cahyono, Kristina Sintia Dewi, Ni Komang Widiani, Frans de Djalong, Zuly Qodir
Bahasa Indonesia dan Inggris
Pendidikan untuk perdamaian (education for peace) merupakan sarana penting untuk membangun perdamaian, terutama dari sisi budaya. Ini merupakan bagian utama dari pengembangan budaya damai di masyarakat (culture for peace).

Meskipun intinya tidak jauh beda, pendidikan untuk perdamaian perlu dibedakan dengan pendidikan perdamaian (peace education). University of Peace (UPEACE), dalam rancangan strategisnya, mengartikan pendidikan untuk perdamaian mencakup semua jenis proses belajar, pelatihan, dan penelitian berkaitan dengan upaya membangun perdamaian. Setiap bentuk riset, lokakarya, pelatihan, seminar, yang dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran (rising awareness) dalam pencegahan konflik di masyarakat, misalnya, masuk dalam kategori ini.

Sementara, pendidikan perdamaian, atau pendidikan untuk perdamaian dalam arti sempit, mencakup kegiatan khusus di sektor pendidikan untuk meningkatkan pemahaman, ketrampilan, dan perbaikan sistem pendidikan untuk membangun kapasitas perdamaian (capacities for peace). Pengembangan kurikulum pendidikan perdamaian di sekolah-sekolah atau universitas, misalnya, masuk dalam pengertian ini.

Keduanya beda dalam tataran metodologis, tetapi tidak selalu beda dalam tataran perspektif. Sebuah lembaga perdamaian, misalnya, bisa hanya melakukan salah satu, atau keduanya, tergantung pada pilihan metodologi dan sasaran yang dituju.

Tulisan dalam edisi Pela kali ini menyajikan keduanya. Pembaca akan menemukan berbagai variasi yang kaya dari keduanya yang bisa digunakan untuk bahan pelajaran bagi perbaikan praktek pembangunan perdamaian (peace building).

Persoalan penting yang harus diperhatikan dalam pengembangan pendidikan untuk perdamaian adalah masalah pilihan pendekatan yang digunakan. Pendidikan untuk perdamaian haruslah menyentuh aspek mendasar ketidakadilan struktural, sebagai sumber utama konflik kekerasan. Bagaimana pendidikan untuk perdamaian menjadi sarana pembebasan (liberasi), seperti ditekankan oleh Freirean, penting dijadikan titik tolak acuan. Elise Boulding menyebut pendidikan ala ini sebagai strategi mengubah sistem kekerasan di masyarakat (uncivilzed society) dengan bertitik tolak dari perubahan kesadaran budaya damai warga masyarakat sipil (civic culture).

Bagaimana hal itu dijalankan, sangat tergantung pada kapasitas dan peran masing-masing. Kalangan pemerintah barangkali lebih suka mengambil jalur pendidikan formal (track 1), sementara kalangan sipil lebih suka jalur non-formal (track 2). Namun untuk lebih efektif, pendekatan banyak jalur (multi-track) sangat diperlukan.

Hingga kini, tantangan terberat untuk terwujudnya perdamaian di masyarakat dari sisi budaya, terutama terletak pada belum adanya ruang sipil (civil society sphere) yang sehat untuk tumbuhnya budaya damai tanpa kekerasan (civic culture). Tumbuhnya ruang hidup sipil yang sehat terus menerus digerogoti oleh, meminjam istilah Habermas, ‘distorsi komunikasi sistemik’ (systemic communication distortions), baik disebabkan oleh intervensi negara yang berlebihan maupun fragmentasi sipil yang akut.

Demikian itu membutuhkan peran lembaga penengah (mediating institutions) yang mampu memfasilitasi dan memediasi keduanya; pemerintah dan masyarakat sipil. Komunitas akademisi disini menjadi penting untuk berperan menjembatani keduanya, baik melalui pendidikan perdamaian, seperti pengembangan kurikulum, metode pengajaran, pelatihan, dsb., maupun melalui aktivitas pendidikan untuk perdamaian di berbagai ranah kehidupan, baik ranah kehidupan sipil maupun politik formal.

Download
Bahasa Indonesia (pdf): Pela Newsletter Vol. 3 No. 1 (Indonesia) Pela Newsletter Vol. 3 No. 1 [Indonesia]
English (pdf): Pela Newsletter Vol. 3 No. 1 (English) Pela Newsletter Vol. 3 No. 1 [English]

PELA Newsletter Vol. 2 No. 1

NewslatterPublikasi Friday, 17 March 2017

klik: perbesar image

Edisi Vol. 2 No. 1 – September 2004
Yang Terlupakan Dari Ambon
Kontributor
dan Editor
Lambang Trijono, Samsu Rizal Panggabean, M. Najib Azca, Arifah Rahmawati, Tri Susdinarjanti, Diah Kusumaningrum, Dody Wibowo, Nurul Aini, Moch. Faried Cahyono, Kristina Sintia Dewi, Ni Komang Widiani, Frans de Djalong, Tetty Naiborhu, Novri Susan, Arie Sudjito
Bahasa Indonesia dan Inggris
Ambon kembali bergolak. Ini cukup mengagetkan kita. Publik selama ini berfikir Ambon aman-aman saja. Warga ambon sendiri selama satu tahun terakhir sedang giat membangun perdamaian menyongsong masa depan lebih baik, setelah lama terpuruk dalam konflik.Tapi orang lupa bahwa potensi konflik masih tersimpan di dasar samodra masyarakat pasca-konflik Ambon. Masyarakat Ambon pasca konflik masih sangat rentan (fragile). Konflik baru-baru ini setidaknya didasari oleh setting perubahan masyarakat pasca konflik Ambon dalam tiga ranah.

Pertama, terjadi pergeseran politik yang menguntungkan salah satu komunitas (Kristen) dan mengecewakan komunitas lain (Muslim). Jabatan politik di era pasca konflik, khususnya di Ambon, diisi oleh tokoh-tokoh dari kalangan Kristen. Demikian itu, meski hasil dari proses pemilu dan pemilihan kepala daerah yang sah, bagi sebagian elit yang merasa tersingkir (Muslim), konflik kemarin dianggap menguntungkan komunitas Kristen. Persoalan demikian jelas menganggu efektivitas pemerintah dalam kebijakan pembangunan dan perdamaian.

Kedua, sesudah perjanjian Malino, komunitas Ambon giat membangun dengan harapan perdamaian sangat tinggi. Namun, dalam praktek di lapangan program-program pembangunan dan perdamaian kurang menyentuh masalah pasca konflik seperti kecemburuan social, segregasi Muslim-Kristen, pengungsi, pengangguran, kemiskinan, dan sebagainya. Tidak terpecahkannya masalah ini menimbulkan banyak kekecewaan yang menjadi potensi baru pasca konflik Ambon.

Ketiga, konflik Ambon terkait dengan banyak faktor, baik bersifat akar maupun cabang-cabang masalah yang muncul pada pasca konflik. Masalah-masalah seperti krisis pemerintahan, keamanan, kesenjangan sosial-ekonomi, kesenjangan kelas social-ekonomi. Masalah-masalah ini belum tersentuh oleh berbagai kebijakan dan respon pembangunan dan perdamaian selama ini. Akar konflik masih seperti api dalam sekam, yang setiap waktu bisa meledak.

Diatas berbagai masalah ini, pertikaian antara kelompok FKM dan pendukung NKRI baru-baru ini hanyalah sebagai pemicu (trigger) saja. Ibaratnya seperti gelombang permukaan yang menghujam ke bawah arus pusaran dasar samudra. Hal itu ditambah dengan faktor mobilisasi konflik oleh pihak ketiga bisa mengoncang gelombang konflik Ambon menjadi konflik besar seperti terjadi sekarang ini. Jadi konflik ini tidak perlu dibesar-besarkan, karena bukan masalah sejati konflik Ambon.

Tapi, perlu diingat bahwa ini adalah persoalan kota Ambon, bukan persoalan Maluku secara keseluruhan. Daerah-daerah kabupaten di luar kota Ambon seperti Tual, Masohi, dan Buru, relatif aman berjalan seperti biasa. Tidak bisa digeneralisir. Meski potensi konflik ada, tetapi mereka relatif masih berharap banyak dengan perbaikan-perbaikan yang terjadi selama ini.

Di Tual misalnya, pemerintahannya mendapat legitimasi yang kuat dari warganya karena adat dan tokohnya menjadi sumber semangat, orientasi, dan roh, dalam menjalankan roda pemerintahan. Kapasitas lokal mereka miliki untuk mengatasi konflik-konflik sehari-hari yang muncul sehingga tidak menjadi kekerasan. Hal itu juga berlangsung di Buru dan Masohi, meski dengan derajad berbeda.

Kapan Ambon seperti Tual dan daerah lainnya? Kapan daerah lain mempengaruhi Ambon, bukan sebaliknya? Seperti dalam semangat revolusi “desa-desa mengepung kota” atau “daerah-daerah mengepung pusat“, dengan revolusi damai tentu saja. Untuk itu, dukungan untuk memperkuat basis kapasitas lokal untuk perdamaian sangat diperlukan.

Download
Bahasa Indonesia (pdf): Pela Newsletter Vol. 2 No. 1 (Indonesia) Pela Newsletter Vol. 2 No. 1 [Indonesia]
English (pdf): Pela Newsletter Vol. 2 No. 1 (English) Pela Newsletter Vol. 2 No. 1 [English]

PELA Newsletter Vol. 1 No. 4

NewslatterPublikasi Friday, 17 March 2017

 klik: perbesar image
Edisi Vol. 1 No. 4 – Desember 2003
Dimensi Lain dari Human Security
Kontributor
dan Editor
Lambang Trijono, Samsu Rizal Panggabean, Diah Kusumaningrum, Dody Wibowo, Nurul Aini, M. Najib Azca, Tri Susdinarjanti, Moch. Faried Cahyono, Kristina Sintia Dewi, Ni Komang Widiani, Tetty Naiborhu, Novri Susan, Ulyati Retno Sari
Bahasa Indonesia dan Inggris
Bencana banjir Bohorok, di Sumatera Utara baru-baru ini, menyebabkan ratusan orang tewas. Sungguh ironis, ini terjadi karena kebodohan kita tidak
mencegah kerusakan lingkungan.Kekerasan adalah segala tindakan atau keadaan yang menyebabkan atau menghambat realisasi potensi manusia di bawah kemampuan aktualisasinya.

Mati karena banjir termasuk kategori kekerasan yang dibuat manusia. Hidup di sekitar lingkungan bahaya seperti di reaktor nuklir yang siap meledak setiap saat, adalah hidup penuh resiko. Dan, atas nama pembangunan ekonomi orang juga merusak lingkungan. Kekerasan pembangunan terjadi.

Bencana Bohorok menuntut kita untuk merefleksi atas salah satu dimensi keamanan manusia, yakni, kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan, sama
buruknya de-ngan konflik kekerasan akibat buruknya sistem politik. Korban tewas yang terjadi sama- sama sia-sia, kerena kebodohan kita tidak mencegahnya.

Membiarkan orang mati karena kebodohan adalah kekerasan ganda. Jika kekerasan seperti itu terus berulang dan tanpa upaya pencegahan, apakah kita ingin bunuh diri secara sistematik dan perlahan-lahan?

Download
pdf format: Pela Newsletter Vol. 1 No. 4 PELA Newsletter Vol. 1 No. 4

PELA Newsletter Vol. 1 No. 3

NewslatterPublikasi Friday, 17 March 2017

klik: perbesar image

Edisi Vol. 1 No. 3 – Juni 2003
Kesadaran Global Anti-Kekerasan
Kontributor
dan Editor
Lambang Trijono, Samsu Rizal Panggabean, Diah Kusumaningrum, Dody Wibowo, Nurul Aini, Kristina Sintia Dewi, Tetty Uli Naiborhu, Novri Susan, Ulyati Retno Sari, Glenn Francois Arradon, Fuad Mardatillah, De Ronnie
Bahasa Indonesia dan Inggris
Baru saja, dunia kita digoncang peristiwa dahsyat, serangan Amerika dan Inggris ke Irak.Peristiwa ini menyadarkan kita betapa beratnya tantangan yang kita hadapi. Bukan hanya konflik dalam negeri, seperti kasus Aceh, yang kini masih terus bergolak tetapi, juga konflik global. Dunia tidaklah sesempit yang dulu kita bayangkan. Kejadian di ujung dunia lain, berdampak luas pada dunia sekitar kita.

Perang di Irak telah menggeser spektrum perdamaian. Bayangbayang radikalisme agama, terorisme, anti Amerika, tiba-tiba di depan mata.

Namun, peristiwa itu juga membawa hikmah tersendiri. Gelombang protes anti perang tiba-tiba bangkit di seluruh penjuru dunia.

Jeritan rakyat sipil Irak terhimpit perang, selain menegaskan komitmen menolak segala bentuk perang, juga membangkitkan solidaritas sipil global antikekerasan.

Namun, bisakah kita menjadikan nya sebagai gerakan perdamaian baru? Tentu tidak cukup menjadi pasifis. Perlu dibuktikan menjadi gerakan aksi nir-kekerasan yang nyata.

Download
pdf format: Pela Newsletter Vol. 1 No. 3 PELA Newsletter Vol. 1 No. 3

 

1…34567…13

Recent Posts

  • Buku : Dua Menyemai Damai : Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam Perdamaian dan Demokrasi
  • Buku : Pandemi, Konflik, Transformasi : Tantangan Demokrasi dan Inklusi Sosial
  • Buku : Agensi Perempuan Dalam Lingkaran Ekstremisme Kekerasan : Narasi dari Poso, Bima, Lamongan dan Deli Serdang
  • Serial Webinar Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP), UGM
  • [PEACE GOERS FESTIVAL-online] “Damai Itu Keren”
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEAMANAN DAN PERDAMAIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Sekip K-9 Yogyakarta 55281
email: ps.kp@ugm.ac.id
Telp./Fax : (0274) 520733

© 2017 CSPS Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY