Book Editor:
Wening Udasmoro
Arifah Rahmawati
Ketika Albert Camus menulis La Peste pada 1947, ia tidak sedang merekam wabah literal, melainkan merefleksikan pendudukan Prancis oleh Nazi Jerman secara alegoris melalui metafora sampar. Wabah dalam novel tersebut menjadi simbol ketidakadilan, dominasi, ketidakacuhan, dan absurditas keberadaan manusia dalam situasi ketidakbebasan. Dengan logika eksistensial dan pendekatan simbolis, Camus menunjukkan bahwa perang dan penindasan dapat sama berbahayanya dengan wabah itu sendiri. Berangkat dari pemahaman bahwa karya sastra tidak sekadar imajinasi fiktif, melainkan berada di ambang dialektika antara pengalaman dan refleksi pengarang, kumpulan cerpen ini disusun dengan kesadaran bahwa wabah abad ke-21 telah mengguncang rutinitas, stabilitas, dan kemapanan manusia. Perubahan yang dipaksakan oleh situasi memunculkan kegamangan, kemarahan, kesedihan, serta protes terhadap ketidakpastian, dan cerpen-cerpen dalam buku ini menangkap beragam respons tersebut dari yang memaknainya secara santai, melihatnya sebagai tragedi buntu, hingga memahaminya sebagai absurditas ketika manusia merasa memilih, padahal sesungguhnya tanpa pilihan.

