Program International Immersion Visit bagi mahasiswa Diploma in Women, Peace and Security (WPS) dilaksanakan pada 16–22 Juni 2025 di Yogyakarta, Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian semester akhir mahasiswa, yang bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai implementasi prinsip Women, Peace and Security (WPS) melalui pembelajaran langsung di institusi akademik, organisasi masyarakat sipil, serta komunitas lintas iman. Kunjungan ini juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat kerja sama institusional antara Mindanao State University–Maguindanao (MSU-Maguindanao) dengan sejumlah universitas di Yogyakarta.
Diskusi
JOGJA – Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Dody Wibowo mengingatkan tentang dampak perubahan zaman yang begitu cepat dan tak menentu. Agar mudah beradaptasi, generasi sekarang perlu mempersiapkan diri dengan baik.
“Pendidikan akademik adalah satu hal, namun tidak kalah penting tentang pendidikan karakter dan mental,” kata Dr. Dody Wibowo Rabu (22/2/2024).
Jika berbicara mengenai pendidikan dasar, pihaknya berkaca dengan fenomena dunia pendidikan di Indonesia saat ini. Dimana tingkat kekerasan yang dilakukan oleh anak, mengacu data KPAI, pada tahun lalu dominasi kasusnya ada di tingkat sekolah dasar dan SMP.
Bima, Suaraberadab.com— Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gajah Mada (PSKP UGM) bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Taman Siswa (STKIP Tamsis) Bima menggelar desiminasi hasil riset, Memperkuat Agensi Perempuan dalam Pencegahan Ekstremisme Kekerasan di Auditorium Sudirman STKIP Tamsis Bima, Sabtu (6/8/2022).
Dalam sambutannya, Ketua STKIP Tamsis Bima, Dr Ibnu Khaldun Sudirman M.Si menyampaikan apresiasi atas kehadiran sejumlah tokoh seperti Ketua MUI Kabupaten Bima, TGH Abdur Rahim Haris MA, perwakilan pemerintah daerah, sejumlah doktor muda, perwakilan sekolah, pimpinan perguruan tinggi serta dosen, mahasiswa dan pemangku kepentingan (stake holder) berkaitan.
Peneliti PSKP UGM,Dr Arifah Rahmawati secara khusus memotret pandemi di mata para perempuan yang dikenal sebagai Inong Balee. Mereka adalah perempuan kombatan konflik bersenjata Aceh yang berlangsung sebelum MOU Helsinki ditandatangani. Namun, Inong Balee memiliki sejarah panjang, sebagai tentara perang yang dibentuk Laksamana Malahayati untuk melawan Portugis pada tahun 1600-an.
“Setelah perjanjian damai, pasukan Inong Balee berinisiatif membentuk institusi atau organisasi untuk memberdayakan diri mereka sendiri. Ada dua yang saya ketahui yang pertama yang disebut sebagai Pasukan Inong Balee, saat ini dia ada di 12 kabupaten di provinsi Aceh dan fokus anggotanya hanya bekas kombatan perempuan,” papar Arifah.

Bagaimana jihadis di Indonesia melepaskan diri dari nilai-nilai kekerasan dan berintegrasi kembali dengan masyarakat?
Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) bekerjasama dengan Institute of International Studies (IIS) UGM mengundang Anda untuk mendiskusikannya bersama Dr. Julie Chernov Hwang (Goucher College, AS) yang mewawancarai 55 orang yang pernah maupun sedang memiliki afiliasi dengan kelompok ekstremis Islam di Indonesia dan menuangkannya dalam buku “Why Terrorist Quit? The Disengagement of Indonesian Jihadist” (Cornell University Press, 2018) pada:
Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP UGM) mengadakan Diskusi dengan tema “Refleksi Pilkada Serentak 2017: dari Isu SARA hingga ancaman kekerasan poltik”, yang akan dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Selasa, 21 Februari 2017
Tempat : Ruang Rapat PSKP UGM, Sekip K-9, Yogyakarta
Waktu : 12.00 – 14. 00 WIB (di awali dengan makan siang)
Pembicara :
Diskusi dan Pemutaran Film
FIVE BROKEN CAMERAS
Kehidupan dan Perjuangan Sehari-hari Rakyat Palestina
Selasa, 30 Agustus 2016
18:30-selesai
PSKP UGM
Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian
Universitas Gadjah Mada
Jl. Asam Kranji K-9, Sekip, Jogjakarta
Pendaftaran
082210358999
Film 5 Broken Cameras merupakan gambaran nyata mengenai ketidakadilan dan penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina. Akan tetapi, di sisi lain, film ini juga menggambarkan perlawanan sehari-hari rakyat Palestina di sebuah desa di Bil’in, wilayah Tepi Barat. Mereka terancam pendudukan Israel yang semakin mendekat dari waktu ke waktu. Film ini merupakan sebuah film dokumenter yang menceritakan pengalaman hidup Emad Burnat selama bertahun-tahun hidup dalam tekanan Israel. Film ini seutuhnya dibuat oleh tangan pertama, seorang petani dan kameramen freelance Palestina, Emad Burnat. Lima kamera milik Emad merekam setiap kejadian yang dialami para penduduk di desanya tersebut melawan pendudukan Israel. Menariknya, film ini diedit oleh film maker dan dosen film asal Israel, Guy David, yang memutuskan untuk terlibat dalam produksi film ini setelah dia mengunjungi Bil’in dengan suporter lain yang mendukung kemerdekaan Rakyat Palestina. Melalui kameranya, Emad merekam beberapa cuplikan sengit dari serangan dan kekejaman tentara Israel di Tepi Barat, serta pembakaran pada perkebunan zaitun milik rakyat Palestina demi membangun pemukiman ilegal Israel di tanah rakyat Palestina. Dia terus-menerus diancam dengan kekerasan fisik maupun perusakan kamera ketika berusaha merekam kekejaman tentara Israel. Dengan dalih bahwa desanya berada di “zona militer tertutup,” pihak militer Israel melarang Emad untuk merekam secara paksa, bahkan ketika Emad berada di rumahnya sendiri. Bagian mengharukan adalah ketika Gibreel, anak Emad, mencoba untuk memahami apa saja kejadian yang dia lihat. Sebagai seorang anak yang tumbuh menyaksikan penindasan yang sedemikian rupa, kata-kata pertama yang ia pelajari adalah “wall” (dinding yang memisahkan desanya dengan perkebunan Zaitun dan pemukiman ilegal Israel), “war” (perang yang berlangsung bahkan sejak dia belum lahir) dan “cartridge”. Film ini juga menggambarkan adanya saat-saat indah, di mana desa merayakan kemenangan implementasi gencatan senjata; ada pula adegan yang indah di mana penduduk setempat menonton versi mentah dari film dokumenter yang dibuat oleh Emad ini untuk meningkatkan semangat mereka; dan juga momen ketika Gibreel menyerahkan setangkai dahan buah zaitun kepada tentara Isralel yang telah meratakan perkebunan zaitun milik keluarganya dengan buldozer. 5 Broken Cameras adalah sebuah karya yang memberi kita pengalaman langsung bagaimana rasanya berada di dalam situasi penindasan dan perampasan, namun tetap memiliki jiwa yang pantang menyerah dan berjuang untuk kebenaran dan kemerdekaan. Film ini adalah wajah ketangguhan dan penggerak semangat dari sebuah desa bernama Bil’in di Palestina. Masih banyak hal mengerikan yang mungkin masih tersembunyi dan belum terungkap. Al Nakba atau Malapetaka tahun 1948 menjadi pertanda diusirnya sekitar 1 juta rakyat Palestina dari tanah dan tempat tinggalnya. Yang kemudian dirampas dan diduduki oleh Zionis Israel. Hingga sekarang banyak diantara rakyat Palestina tidak dapat kembali ke rumahnya. Memegang harapan untuk kembali dengan simbol kunci rumah yang terus diturun temurunkan ke anak cucu mereka. Dari tempat pengungsian tersebut berkembang semangat perlawanan dan nasionalisme. Bahkan bukan saja diantara para pengungsi Palestina namun juga kelas buruh dan rakyat di Timur Tengah. Kelompok-kelompok reaksioner mengharapkan koalisi antara negara Muslim untuk mengusir Yahudi Israel. Tapi kita mengetahui dengan baik bagaimana rejim-rejim Timur Tengah juga merupakan boneka dari Imperialis Amerika Serikat. Dan mereka ikut serta menghancurkan gerakan rakyat Palestina. Hanya solidaritas antara kelas buruh dan rakyat Palestina bersama kelas buruh dan rakyat di Timur Tengah dan di seluruh dunia yang akan mampu membebaskan Palestina. Perjuangan kelas buruh dan rakyat tertindas tidak boleh dipecah belah berdasarkan agama, suku, bangsa, jenis kelamin, orientasi seksual, dsb. Perjuangan kelas buruh bersifat internasionalisme. Bertujuan tidak hanya untuk menghapuskan penindasan dari manusia ke manusia. Namun juga menghapuskan penindasan terhadap bangsa-bangsa.Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerjasama dengan Pemda Jayawijaya telah menyelenggarakan Diskusi dan Bedah Buku ”Gunung Versus Pantai Dalam Perspektif Nilai – Nilai Hidup Bersama”, yang ditulis oleh Wempi Wetipo, S.H., M.H dan Marthen Medlama, S.Pd yang akan diselenggarakan pada:
Hari/tanggal : Kamis, 31 Maret 2016
Waktu : 08.30 – 13.00 WIB
Tempat : Ruang Bulaksumur Hall, Hotel UC UGM, Jl. Pancasila No. 2, Bulaksumur, Yogyakarta
Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP UGM) bekerja sama dengan Institute of International Studies (IIS UGM) telah menyelenggarakan Diskusi dengan Tema ”Kekerasan Pilkada di Papua pada:

Hari, tanggal : Senin, 18 April 2016
Waktu : 09.00-12.00 WIB
Tempat : Ruang Seminar Timur FISIPOL UGM
Pembicara :
Sociology Research Center Jurusan Sosiologi FISIPOL UGM bekerjasama dengan Pusat Studi Keamanan dan Perdamamaian (PSKP UGM), akan menyelenggarakan Diskusi dengan tema “Two Civil Wars; Two Different Solution. Why War Ended So Differently in Papua and East Timor”. Narasumber yang akan mengisi diskusi ini yaitu Dr. Claire Smith (University of York) dan Lambang Trijono, M.A (Sosiologi UGM). Diskusi ini akan diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Kamis, 12 November 2015
Waktu : Pukul 10.00 – 12.00 WIB






